Tantangan utama dalam pembangunan suatu bangsa adalah membangun sumber daya manusia yang bekualitas yang sehat, cerdas, dan produktif. Kurang gizi merupakan suatu fenomena yang saling terkait dalam permasalahan peningkatan SDM yang berkualitas, Oleh karena itu meningkatkan status gizi suatu masyarakat erat kaitannya dengan upaya peningkatan ekonomi. Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan ekonomi sebagai dampak dari berkurangnya kurang gizi dapat dilihat dari dua sisi, pertama berkurangnya biaya berkaitan dengan kematian dan kesakitan dan di sisi lain akan meningkatkan produktivitas. Saat ini stunting harus lebih menjadi prioritas untuk ditekan karena berpotensi menciptakan kemiskinan di masa mendatang.

Fenomena kurang gizi erat kaitannya dengan istilah stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Kondisi stunting sudah terjadi sejak dalam kandungan dan akan terlihat saat anak berusia 2 tahun.

Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6% di atas batasan yang ditetapkan WHO (20%). Balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15%) kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap tahun. Dampak dari stunting itu sendiri yaitu anak akan menjadi mudah jatuh sakit karena perkembangan sistem imun tidak maksimal. Kemampuan kognitif berada di bawah rata-rata anak normal dan fungsi-fungsi tubuh tidak dapat bekerja optimal. Postur tubuh anak saat dewasa menjadi tidak maksimal karena sejak usia 2 tahun anak sudah mengalami keterlambatan pertumbuhan. Saat dewasa, anak akan berisiko tinggi menderita Penyakit Tidak Menular dan ketika lanjut usia akan berisiko terkena penyakit yang berhubungan dengan pola makan.

 Ada beberapa faktor yang menyebabkan stunting masih belum bisa ditekan sampai saat ini. Faktor pertama terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). Penyebabnya karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak, Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi. 60% anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI secara eksklusif, 2 dari 3 anak usia 6-24 bulan tidak mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Padahal ASI eksklusif dan MP-ASI merupakan nutrisi yang sangat penting untuk mendorong pertumbuhan anak dan tentu berdampak pada perkembangannya.

Harus ada upaya dan kolaborasi agar fenomena stunting dapat diatasi. Pemerintah tak dapat bekerja sendiri, melainkan memerlukan kerjasama dari seluruh sektor. Pihak non-pemerintah, swasta, dan masyarakat harus turut mengambil bagian untuk memeranginya. Namun tak dapat dipungkiri pemerintah memiliki peran paling penting karena pemerintah sebagai penggerak utamanya. Dari sisi pemerintah sendiri harus ada kolaborasi di berbagai bidang. Kementerian Kesehatan memang bertanggung jawab dari sisi gizi, tapi bukan berarti kementerian lain seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, hingga Kementerian Desa tidak berperan. Ketika bicara tentang pengatentasan gizi itu juga termasuk pangan. Kementan didorong untuk meproduksi makanan yang lebih segar terutama sayur dan buah, termasuk protein hewani dan karbohidrat. Lalu Kemenperin didorong melakukan peningkatan kualitas produk pangan sehingga gizi makanan bisa lebih optimal. Selain pemerintah, pihak Kader PKK pun sudah turut berpartisipasi memerangi kekurangan gizi di Indonesia, tentunya salah satunya melalui posyandu.

Penulis : Muh. Yosrilrafiq I.
Editor : Liza Dwi Wahyuni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here