Isu stunting pernah viral di Indonesia. Bukan di dunia kesehatan, tetapi di kancah perpolitikan Indonesia. Ketika ditanya mengenai stunting, seorang calon kepala daerah menjawab bahwa dirinya tidak mengerti hal tersebut. Jawaban tersebut dilontarkan saat sesi debat yang disaksikan banyak orang. Padahal, wawasan tentang stunting harus dimiliki karena stunting adalah salah satu persoalan pelik dalam aspek sosial-budaya di tanah air.

Semua orang harus membuka mata terhadap kasus stunting, apalagi para pejabat yang menjadi decision maker bagi rakyat agar tercipta kehidupan yang lebih baik. Ketidaktahuan tersebut mengisyaratkan pemerintahan yang tidak peduli kepada masyarakatnya. Bagaimana mau membuat program yang bermanfaat di kemudian hari saat terpilih
sebagai pemimpin, lha wong pengertiannya saja tidak mengerti? Marilah sejenak kita tinggalkan hiruk-pikuk politik yang ‘memilukan’ di negeri kita. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, sebagai bagian dari struktur masyarakat, setidaknya kita mengetahui salah satu permasalahan sosial di lingkungan kita. Salah satunya adalah stunting. Apa itu stunting? Apakah bila kita kaitkan dengan bahasa Inggris, stunting adalah bentuk verb ditambah partikel ‘ing’ pada kata stunt? Yang sering disebut di film-film action, stunt man? Jawabannya, tentu saja bukan. Stunting yang dibahas di sini adalah suatu kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan umur. Atau dalam kata lain, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan

pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman- teman seusianya. Pengertian ini diambil dari Buletin Stunting yang dirilis

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2018. Sementara itu, menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi badan di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis). Dalam hal ini, kondisi stunting diukur dengan menggunakan standar pertumbuhan anak yang dikeluarkan oleh WHO. Masalah yang terjadi saat ini adalah masyarakat, terutama kalangan orang tua hanya memperhatikan kesehatan anak dari kondisi fisik yang kasatmata saja.

Bila badannya gemuk dan pipinya sudah tembam, balita sudah dianggap sehat. Disisi lain, adakalanya anak memiliki postur tubuh pendek. Hal tersebut dianggap faktor genetik karena kebetulan orang tuanya berbadan pendek juga. Tinggi badan anak pun dimaklumi sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah. Kebiasaan seperti dua contoh di atas merupakan sesuatu yang tidak tepat dan harus segera diluruskan. Bisa dirumuskan dua alasan penting. Pertama, stunting berkaitan dengan asupan nutrisi harian anak yang kurang, sehingga mempengaruhi pertumbuhan tinggi badannya. Untuk mengetahuinya, tidak cukup dengan melihat keadaan bentuk tubuh anak. Terdapat mekanisme khusus untuk memeriksa seorang anak mengalami stunting atau tidak. Kedua, stunting bila dibiarkan dalam jangka waktu yang lama akan bersifat irreversible, tidak bisa dikembalikan seperti semula. Identifikasi dini diperlukan untuk mencegah stunting sangat yang berdampak pada
masa depan anak. Sebagai, identifikasi awal, bisa diamati gejala yang dialami anak stunting. Namun, tetap saja pemeriksaan oleh tenaga kesehatan harus tetap dilakukan.
Gejala-gejala tersebut adalah sebagai berikut.

1. Ciri-ciri fisik: kelelahan tanpa alasan yang jelas, kulit kering, terdapat masalah terhadap tingkat kehangatan tubuh. tubuh gagal berkembang di usia di bawah dua tahun, wajah menjadi tampak lebih muda di usianya, berat badan anak tidak naik, bahkan cenderung menurun, perkembangan tubuh anak terhambat, seperti telat menarche (menstruasi pertama anak perempuan), anak mudah terserang berbagai penyakit infeksi, dll

2. Ciri-ciri psikologis: mudah tersinggung atau marah, kurangnya respon sosial yang memadai, dll. Lalu, bagaimana cara mengatasi stunting? Saat ini pemerintah berfokus pada pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, demi masa depan Indonesia yang lebih cerah saat berada di tangan mereja. Aspek-aspek yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut

1) Pola makan yang memperhatikan komposisi makanan. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

2) Pola asuh. Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, promosi inisiasi menyusu dini (IMD), gerakan pemberian ASI ekslusif, dan imunisasi di instalasi kesehatan terdekat.

3) Sanitasi dan akses air bersih, meliputi perbaikan fasilitas dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Stunting adalah masalah kesehatan dan sosial yang harus dihadapi bersama. Tindakan menyalahkan satu pihak bukanlah tindakan yang tepat. Perlu dilakukan sinergi antara pemerintah sebagai pembuat regulasi dan eksekusi program serta masyarakat sebagai pengontrol dan peserta program yang antusias. Dimulai dengan menambah wawasan mengenai stunting adalah langkah awal yang baik. Wawasan tersebut diharapkan meningkatkan kepedulian yang mengarahkan kepada perilaku yang positif untuk mencegah potensi stunting di Indonesia tercinta.

Sumber:

Mengenal Stunting, Kondisi Tubuh Anak Pendek yang Ternyata Berbahaya

https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/arif-gunawan/apa-itu-stunting-dan-5-gejalanya yang-wajib-kamu-waspadai-c1c2/full

http://www.depkes.go.id/article/view/18040700002/cegah-stunting-dengan-perbaikan pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2-.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here